
Paroki Santo Matheus Depok melalui OMK dan Komsos, bekerja sama dengan Tim Pastoran Digital Keuskupan Bogor, menggelar Workshop ‘Go To The Digital Frontiers’ – Pengerjaan konten digital strategis, ideasi, praktik eksekusi pada Sabtu siang, 6 Juni 2026 di Aula Maria Goreti Paroki St. Matheus Depok.

Salve Olivia, Konten Kreator dengan akun IG @salveolivia bertindak sebagai narasumber yang memberikan sharing karya : Behind the Screens, Iman di balik Konten.. Hadir juga ada RD. Habel Jadera, Cyber Missiologist Keuskupan Bogor yang memberikan materi Spritiualitas Misi Digital, The ‘Care’ of Mission : menjadi Influencer Iman. Pastor Paroki St. Matheus, RD. Jimmy Rampengan membuka acara dan mengikuti jalannya acara.
IMAN DI BALIK KONTEN

Menjadi digital misionaris, mulai dari hal kecil, misalnya, posting ucapan : Happy Sunday… Apakah sudah ke gereja hari ini? Orang yang tadinya males atau jarang ke gereja, lihat konten ini, bisa saja tergerak untuk ke gereja. Mewartakan konten itu bisa bermanfaat untuk orang lain atau untuk diri sendiri. Konten tidak ada standardisasinya, kamu berkonten itu bentuk sukacita kamu.
Terminology Cybertheology

Romo Habel menyampaikan komunikasi saat ini sudah mengarah ke digital, hal ini karena perkembangan teknologi. Dalam dunia digital kita menggunakan alat-alat komunikasi digital untuk pewartaan, mengkomunikasikan kabar sukacita. Cybertheology atau perkembangan teknologi jangan sampai kehilangan kecerdasan berfikir kita
Pandangan terbaru dari consilivatican II:

- Gereja mengakui ada perubahan konsep komunikasi, bukan soal perpindahan orang, tetapi terkait teknologi, komputer, dll.
- Instrument to Media : alat-alat komunikasi bukan hanya sekadar instrumen, tapi MEDIA. Gereja menggunakan kata : Komunikasi bukan hanya informasi. Karena informasi hanya 1 arah, tidak ada feedback, hanya berita-berita terkini.
Media untuk : memberikan penghiburan, pendidikan, dan penyebaran kabar sukacita. Itulah akhirnya lahirnya konteks Cybermissionary.

Cybermissionary

Orang yang taat kepada Injil, menjawab seruan dan perintah Tuhan, mewartakan injil sampai ke dunia digital. Kita yang aktif di dunia digital, adalah yang menyadari dan taat akan Injil.
Cybermissionary adalah aktivitas para murid untuk taat kepada perintah Tuhan. Ciri khas gereja terdalam adalah mewartakan Injil. Misi gereja adalah tindakan untuk memenuhi ketaatan kita kepada perintah Tuhan, termasuk konteks pewartaan di dunia digital.
‘Orang tidak membedakan antara kehidupan sehari-hari dengan kehidupan digitalnya, artinya orang itu mampu mewartakan secara digital atau cybermissioner’. (Romo Habel)


